Pendidikan dirancang terlebih dulu (Isjoni, 2008:7). Pembelajaran inovatif diharapkan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang
bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran pada peserta
didik agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang ada pada
dirinya, sehingga peserta didik dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan bangsa, (UU No. 20 tahun 2013). Pendidikan
ditekankan pada penguasaan materi dan juga penguasaan keterampilan sehingga
dalam pendidikan harus adanya suatu perbaikan yang terus menerus. Setiap orang
pasti mempunyai keterampilan dan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan
digunakannya proses dan prinsip keilmuan yang dikuasai. Dengan demikian, capaian
siswa yang ada dalam kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan pembelajaran
untuk tahu (learning to know) dan
pembelajaran untuk melakukan (learning to
do), (Ambarsari, 2012)

Manusia
tidak
bisa lepas dari pendidikan karena
pendidikan sangat penting bagi setiap individu. Dalam pendidikan pada umumnya
ada interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Adanya proses belajar
mengajar dalam pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi yang ada pada
diri peserta didik. Sekolah merupakan tempat proses belajar mengajar yang paling pokok
dan sekolah juga sebagai proses tingkah laku yang ditimbulkannya melalui
latihan atau pengalaman. Dalam dunia pendidikan masih ditemukannya
masalah atau kendala terutama dalam proses pembelajaran.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Permasalahan pada pembelajaran konvensional di dalam
kelas salah satunya adalah suasana belajar yang membosankan sehingga siswa
tidak aktif ketika proses pembelajaran berlangsung. Berhasil atau tidaknya
tujuan pendidikan itu tercapai tergantung pada bagaimana proses belajar yang
dialami oleh siswa. Oleh karena itu kegiatan belajar merupakan kegiatan yang
penting dalam proses pendidikan di sekolah. Dalam kegiatan belajar terdapat
suatu proses psikologi yang terjadi didalam diri seseorang yang dapat mengubah
perilaku, pemahaman, skill, sikap dan juga kepribadiannya (Aswita, 2015:65).
Saat ini banyak siswa yang masih beranggapan bahwa pelajaran biologi kurang
menyenangkan dan tidak sedikit siswa yang kurang paham dalam pelajaran biologi.
Dalam kegiatan pembelajaran biologi yang melibatkan keterampilan dan kemampuan
berpikir masih sangat rendah dan siswa menjadi pasif, sehingga siswa merasa
tidak termotivasi dan minat terhadap pelajaran biologi rendah. Masalah
pemebelajaran seperti itu dapat diatasi dengan penerapan pembelajaran inovatif.

Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang
mampu menarik perhatian siswa
melalui
pelibatan aktif siswa yang bersangkutan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka
untuk menciptakan suatu kegiatan belajar yang menarik bagi siswa perlu dirancang
terlebih dulu (Isjoni, 2008:7). Pembelajaran inovatif diharapkan mampu
meningkatkan keterampilan peserta didik, siswa lebih aktif dan mengeksplor
dirinya. Dengan demikian, pembelajaran yang inovatif dapat dilakukan dengan
cara mengolah pengalaman seperti mendengar, membaca, menulis, mendiskusikan,
merefleksi rangsangan, serta memecahkan masalah. Oleh karena itu, upaya
pengembangan keterampilan proses dapat dilakukan dengan melakukan proses
pembelajaran yang di dalamnya terdapat kegiatan yang berorientasi pada
pemecahan masalah.

Pendidikan sains atau IPA
adalah studi mengenai alam sekitar, diarahkan untuk inkuiri dan melakukan
sehingga diharapkan dapat menjadi sarana bagi peserta didik untuk mempelajari
diri sendiri dan alam sekitar. Dalam proses pembelajarannya ditekankan pada
pengalaman langsung sehingga peserta didik dapat mengembangkan kompetensi agar
dapat memahami gejala yang terjadi dan mejelajahi alam sekitar secara ilmiah,
sehingga peserta didik tidak hanya sekedar memahami materi yang ada dalam buku
pelajaran atau hanya menguasai pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau
prinsip saja. Biologi merupakan ilmu yang menjelaskan tentang konsep
atau teori berdasarkan kejadian alam. Dalam
pelajaran biologi, permasalahan yang ada dikehidupan sehari-hari dapat dikaitkan
dengan materi-materi yang melibatkan banyak disiplin ilmu dalam kajiannya. Hal
tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh Pusat Kurikulum, (2003): Harysti,
(2012) bahwa sains merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis, penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa
fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip dan juga merupakan suatu proses
penemuan. 

Biologi adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) yang menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan
keterampilan proses sains yang berkaitan dengan kehidupan makhluk hidup. Keterampilan
proses sains diantaranya meliputi: (1) keterampilan mengamati dengan seluruh
indera, (2) mengajukan hipotesis, (3) menggunakan alat dan bahan secara benar
dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja, (3) mengajukan pertanyaan,
(4) menggolongkan, (5) menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan
secara beragam, (6) menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk
menguji gagasan atau juga untuk memecahkan masalah sehari-hari, (Fitriah, 2012)

Perlunya diterapkan keterampilan proses sains pada siswa akan lebih memudahkan siswa dalam memahami
konsep-konsep yang rumit
dan abstrak apabila disertai dengan contoh-contoh yang konkrit. Menurut Dimyati dan Moedjiono (2002: 141), ada berbagai keterampilan proses,
terdiri dari:

1.      Keterampilan dasar proses sains (basic skill), yang dimulai dari
mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan
mengkomunikasikan.

2.      Keterampilan terpadu proses sains (integrated skill) dimulai dari
identifikasi variabel sampai dengan eksperimen. Keterampilan proses dapat
mengembangkan beberapa kemampuan, diantaranya mengamati, mengklasifikasikan,
menginterpretasikan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, dan
mengkomunikasikan, (Sumantri dan Permana, 2001: 
97-100; Hamalik, 2008:150-151; Usman, 2008: 42-43; Nuryani, 2005:
80-81).

Tidak hanya
penguasaan pengetahuan saja, tetapi kecakapan dan keterampilan juga merupakan
hasil belajar. Keterampilan proses dalam pembelajaran seperti melihat,
menganalisis, memecahkan masalah, membuat rencana dan mengadakan pembagian
kerja dapat meningkatkan aktivitas siswa sehingga adanya produk yang dihasilkan
dari aktivitas belajar ini mendapatkan penilaian. Oleh karena itu, diperlukan
adanya pembelajaran yang mampu mengembangkan aspek-aspek yang terkandung di
dalam keterampilan proses sains sehingga dapat diterima oleh peserta didik dan
diharapkan akan terjadi peningkatan. Salah satu upaya untuk mendapatkan pengalaman belajar yang dapat diperoleh dalam
belajar biologi yaitu dengan dilakukannya kegiatan praktikum yang dapat
dilakukan baik di laboratorium maupun di lingkungan sekitar untuk mengamati
fenomena yang terjadi di alam yang kemudian dapat dijelaskan secara ilmiah.

Menurut Djamarah (2000: 191) metode
yang terbanyak menampilkan segi-segi keterampilan proses adalah metode diskusi,
eksperimen dan pemberian tugas. Salah satu teori
pembelajaran yang dapat menguasai konsep atau materi adalah dengan pembelajaran
konstruktivisme. Pembelajaran konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang
menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi mengkonstruksi
atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru, lewat fakta-fakta yang mereka
alami dalam kehidupannya, (Muslich, 2008). 
Salah satu indikator keberhasilan belajar adalah apabila peserta didik
telah mampu mengungkapkan kembali yang telah dipelajari dengan Bahasa dan
kalimat sendiri serta mempraktikannya dalam dunia nyata.